PSIKOLOGI OLAH RAGA “KETEGANGAN DALAM LAPANGAN”

1 04 2010

BAB I

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Suatu pencapaian prestasi tidak dapat dilepaskan dari peran serta psikis atlet,baik didalam lapangan maupun diluar lapangan,oleh Karena itu diperlukan suatu kajian ilmu psikologi olahraga yang bertujuan untuk membantu atlet agar dapat menampilkan performa optimal,yang lebih baik dari sebelumya.

Salah satunya adalah untuk menanggulangi terjadinya suatu kecemasan atau stress dalam lapangan, suatu kecemasan dapat timbul dari faktor intrinsik maupun ekstrinsik, maksudnya adalah suatu kecemasan dapat timbul dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar.. Hal ini harus dicermati sebenar-benarnya oleh pelatih, bagaimana mengkondisikan atletya sebaik mungkin,sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

Dalam situasi inilah pelatih dihadapkan dengan situasi yang rumit, peran serta pelatih sangat diperlukan dalam tercapainya performa maksimal atlet, sehingga atlet dapat mencapai prestasi setinggi-tingginya.Akan tetapi kebanyakan pelatih kurang memperhatikan segi psikologis dari atletnya,bagaimana seorang atlet dapat menyesuaikakn diri dengan lingkungan sekitarnya, sehingga kadang terjadi suatu ketegangan dalam lapangan.

Dari uraian tersebut, kami menyusun makalah yang berjudul ketegangan dalam lapangan. Tujuannya adalah agar kita lebih mengerti tentang terjadinya suatu ketegangan dalam lapangan dan bagaimana cara menanggulanginya.

    1. Rumusan Masalah
      1. Apa yang dimaksud dengan ketegangan dalam lapangan?
      2. Apa yang dimaksud dengan kecemasan?
      3. Apa saja faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketegangan dalam lapangan ?
      4. Bagaimana cara menanggulangi ketegangan dalam lapangan ?

    1. Tujuan Masalah
      1. Untuk mengetahui pengertian ketegangan dalam lapangan..
      2. Untuk mengetahui pengertian kecemasan

      3. Untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat menimbulkan ketegangan dalam lapangan
      4. Untuk mengetahui bagaimana cara-cara menaggulangi terjadinya ketegangan dalam lapangan.

BAB II

PEMBAHASAN

Ketegangan dalam lapangan

Seperti halnya otot-otot tubuh,kita dapat mengalami suatu ketegangan karena melakukan kegiatan fisik, maka kitapun dapat mengalami ketegangan psikis, atau yang lebih dikenal sebagai “stress”.

Menurut Gauron(1984) stress seperti halnya tidak dapat dielakkan dalam kehidupan manusia sehari-hari.kita tidak dapat menghindarkan diri dari ketegangan psikis atau stress, beberapa ketegangan diperlukan dan beberap ketegangan tidak diperlukan dalam penampilan dan melakukan tugas.Menurut Gauron kurangnya ketegangan atau “lack of tension” dapat berakibat kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik.Untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu dibutuhkan adanya ketegangan otot-otot,dimana ketegangan tersebut sangat diperlukan kemanfaatannya.

Setiap atlet yang bertanding dalam suatu peristiwa olahraga merasakan adanya peningkatan ketegangan emosional untuk mengantisipasi situasi pertandingan yang dihadapi, tujuannya adalah agar atlet selalu waspada terhadap situasi didepannya, hal ini sangat menguntungkan demi tercapainnya performa maksimal atlet.

Keaadaan stress atau menghadapi tantangan, menimbulkan reaksi penyesuaian diri untunk mengatasinnya, dan dalam keaadaan ini terjadi aktivasi, yakni jika jumlah stress yang dihadapai individu berada dalam batas kemampuannya untuk mengatasi.

Keaadaan aktivasi ini ditandai secara fisiologis oleh dua kumpulan tanda-tanda, yakni:

  1. petunjuk-petunjuk dari tubuh bahwa tubuh siap untuk betindak, dimana tonus otot meninggi denyut jantung dan kecepatan respirasi serta daya persepsi juga meninggi.
  2. tanda-tanda bahwa tubuh menghentikan kegiatan-kegiatan yang mungkin dapat mengurangi kegiatan otot yang meninggi tadi, yakni penurunan dari gerakan pencernaan dilambung dan juga terhentikan reflek-reflek yang mengatur pembuangan. Kesiapan tubuh yang berhubungan dengan stress ini menciptakan kondisi untuk mengadakan usaha untuk mengatasi tantangan yang perlu ada untuk dapat tercapainya performance yang baik.

Tanda-tanda tersebut diatasmerupakan tanda-tanda pada umumnya jikaseorang dalam keadaan aktivasi/terangsang. Namun ada perbedaan-perbedaan individual ialah tanda-tanda ini, misalanya pada seorang, hanya otot-otot tertentu yang menjadi tegang, pada yang lain lebih menyeluruh, pada yang lain lagi terjadi keluar keringat di tempat-tempat tertentu, misalnya di tangan, kaki dsb.

Perbedaan-perbedaan aktivasi ini tidak saja tampil dari tubuhnya, melainkan juga dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing dimasa lalu, dan juga oleh bagaimana seseorang merasakan dan menginterpretasikan keadaan stres yang dialaminya pada saat ini. Tiap jenis olah raga memerlukan tingkatan aktivasi yang berlainan. Tidak selalu tingakatan aktivasi individu yang tinggi akan memperbaiki prestasi. Umumnya untuk tugas-tugas motorik dalam olah raga yang sifatnya sederhana dan telah dikuasai, tingaktan aktivasi tinggi akan memperbaiki performance, akan tetapai untuk tugas-tugas motorik yang kompleks tingakatan aktivasi yang tinggi mungkin akan memperburuk performance. Jadi harus dicari suatu optimun dari keadaan aktifasi ini.

Atlet yang berpengalaman memerlukan perangsangan mental sebelum ia melakukan pertandingan yang penting. Cara-cara yang dilakukannya sifatnya sangat individual, tapi jelas harus diperhatikan bahwa:

  • Atlet sebaiknya tidak terlalu berlabihan mendapat rangsangan (overexcited).

  • Pembangkitan emosi yang diperlukan untuk menghasilkan performance yang lebih efektif sifatnya individual.

  • Untuk menentukan ”tingakatan aktivasi/perangsangan” agak sukar.

Kecemasan

Bila stres yang dialami seseorang terlalu besar baginya, hingga tidak dapat dilakukan tindakan untuk mengatasi, atau bila stres yang dihadapi berlangsung terus-menerus, maka akan timbul kecemasan. Kecemasan adalah suatu perasaan yang tak berdaya, perasaan tak aman tanpa sebab yang jelas. Perasaan cemas atau anxiety jika dilihat dari kata ” anxiety” berarti perasaan tercekik. Kecemasan menunjukan gejala-gejala fisiologis yang sama dengan keaadaan aktifasi, tapi dalam intensitas yang lebih tinggi, adapun tanda-tandanya adalah:

  • Pupil membesar, keringat dingin, denyut jantung bertambah cepat, pernafasan lebih cepat, mulut jadi kering, nafsu makan turun, tidak dapat tidur, tekanan darah dan kadar gula darah meninggi.

Tanda-tanda psikomotorik adalah:

  • Adanya ekspresi wajah yang ketakutan, adanya keterangsangan (agitasi) psikomotorik, atau sebaliknya adanya perlambatan (retardasi) dalam psikomotorik.

Dalam keadaan patologis:

  • Ada perasaan terkurung, perasaan tak berdaya dalam menghadapi tantangan yang tak menentu, berguna untuk melindungi diri terhadap bahaya. Akan tetapi jika dirasakan terus menerus akan menggangu penyesuaian diri sehari-hari.

Sifat kecemasan

# Kecemasan ringan misalnya dirasakan sebagai keadaan perasaan yang samar-samar mengenai ketegangan tubuh.

# Kecemasan sedang misalnya ketegangan yang lebih besar, dengan tanda-tanda somatif dan psikis seperti jantung berdebar-debar perasaan terancam.

# Kecemasa tinggi merupakan suatu kecemasan yang menimbulkan reaksi panik.

Kecemasan dapat berasal dai lingkungan (sukar dibedakan dengan ketakutan), dalam hal ini dinamakan kecemasa reel atau kecemasan obyektif. Kecemasan jenis ini berguna untuk melindungi keselamatan diri. Misalnya saat menggiring bola pernah di tackling oleh lawan hingga cidera, maka ia akan selalu meraa was-was jikalau akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya.

Ada kalanya suatu keadaan tubuh yang berada dalam aktifasi dipersepsikan oleh individu sebagai kelemahan diri dan ketakutan, yang kemudian menimbulkan keadaan aktifasi yang berlebihan dan berakibat negatif pada prestasi. Ada kalanya keadaan aktifasi ini di persepsikan secara obyektif, dan keadaan ini mempersiapkan dilakukannya tindakan –tindakan yang positif pula.

Alur Interpretasi salah

Tanda-tanda aktivasi observasi dari tanda-tanda oleh atlet interpretsi dari tanda-tanda sbg indikasi adanya kelemahan dan ketakutan Tanda-tanda aktivasi yang meninggi gangguan dalam performance oleh excess anxiety

Alur Interpretasi benar

Tanda-tanda aktivasi observasi Interpretasi yang benar dari tanda-tanda ini sbg hal-hal yang menyiapkan atlet untuk berprestasi maksimal tanda-tanda dimasukkan dalam konteks & dicapainya tingkatan aktivasi dan anxiety yang optimum realisasi dari performance optimum

Jenis kecemasan ditijau dari bagaimanaterjadinya kecemasan :

  1. Kecemasan yang terkondisionir adalah kecemasan yang merupakan hasil dari ”kondisioning” dari pengalaman masa lalu.

  2. Kecemasan karena kekurangan keterampilan (instrumental defisit) misalnya kecemasan yang terjadi pada orang yang pemalu, terhambat dalam pergaulan, yang semakin ia menghindari pergaulan semakin ia menjadi pemalu.

  3. Kecemasan karena pernyataan diri yang menimbulkan kecemasan misalnya yang disebabkan oleh proses berfikir yang terus-menerus berlangsung dimana terjadi evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri.

  4. Kecemasan karena tindakan yang dilakukannya sendiri misalnya oleh karena pekerjaan yang dipilihnya terlalu berat atau karena ia mengambil tanggung jawab yang terlalu berat.

  5. Kecemasan yang dikaenakan lingkungan fisik atau sosial yang gawat contonya kareana orang tua yan gterlalu kejam erhadap anaknya. Tuntutan pelatih yang tidak realistis bagi kemampuan atlet.

Faktor-fator yang menyebabkan terjadinya ketegangan dalam lapangan

Faktor instrinsik terjadi karena kurangnya kesiapan mental individu dalam menghadapi suatu pertandingan. Hal ini menyebabkan tidak tercapainya performance maksimal atlet, mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui pelatihan yang terencana, teratur dan sistematis.

Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang sebagai individu yang satu berbeda dengan yang lainnya, untuk membantu mengenal profil setiap atlel dapat dilakukan pemeriksaan psikologis (psikotest) dengan bantuan psikometri. Profil psikologi atlet biasanya beruapa gambaran kepribadian secara umum, potensi intelektual, dan fungsi daya pikirnya yang dihubungkan dengan olah raga.

Faktor ekstrinsik terjadi karena adanya ketegangan mental yang timbul dari lawan bertanding maupun provokasi supporter lawan, apabila mental bertanding atlet itu baik maka berbagai macam provokasi dari siapapun tidak akan berpengaruh terhadap performanya, akan tetapi apabila mental bertanding atlet itu buruk maka performa terbaiknya tidak akan muncul, sehingga merugikan diri sendiri, tim, dan clubnya.

Cara-cara menanggulangi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan:

  • Mengidentifiksikan dan temukan sumber utama dan permasalahan yang menimbulkan kecemasan dan ketegangan
  • Melakukan latian simulasi, yaitu latian dibawah kondisi seperti dalam pertandingan sesungguhnya, misalnya sparing partner dihadapan supporter baik lawan maupun kawan.

  • Mengusahakan untuk mengingat, memikirkan dan merasakan kembali saat-saat ketika mencapai penampilan yang paling baik atau mengesankan.
  • Melakukan latian relaksasi progesif, yaitu melakukan peregangan atau pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.
  • Melakukan latihan otogenic, yaitu bentuk latihan relaksasi yang sistematis memikrkan dan merasakan bagian-bagian tubuh menjadi hangat dan berat.
  • Melakukan latihan pernafasan dengan bernafas melalui mulut dan hidung secara sadar bernafas dengan mengunakan diafragma.

  • Mengalihkan perhatian misalnya mendengarkan musik atau berkomunikasi dengan kawan.

  • Menggunakan ”model training method” dengan mengatur situasi komeptitif sedimikian rupa sehingga sama dengan keadaan aktual dari situasi pertandingan, dengan maksud agar ia terbiasa menghadapi bermacam-macam stres.

BAB III

PENUTUP

    1. Kesimpulan

Ketegangan dalam lapangan adalah suatu ketegangan dari individu yang dapat timbul disetiap saat dan tidak dapat dihindari., ketegangan ini dapat timbul dari faktor instrinsik(diri sendiri) maupun dari faktor ekstrinsik (Ex: Provokasi supporter maupun lawan bertanding). Ketegangan yang terus-menerus dapat menimbulkan suatu kecemasan, kecemasan yang bermanfaat adalah kecemasan yang dapat menimbulkan mawas diri, sehingga tingakat kewaspadaan menjadi lebih baik, kecemasan yang tidak berguna adalah kecemasan yang dapat menimbulkan terjadinya penurunan performa atlet,hal ini ditandai dengan penurunan mental saat atlet akan,sedang,maupun setelah bertanding.

Ketegangan maupun keemasan dapat ditanggulangi dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan identifikasi sumber permasalahan,sehingga ketegangan tidak terjadi atau tidak mengganggu timbulnya performa maksimal atlet.

.

    1. Saran

Untuk mencapai suatu prestasi yang maksimal,pelatih hendaknya benar-benar memperhatikan aspek psikis setiap atlet,atlet harus dipandang sebagai individu,bukan sebagai satu kesatuan,hal ini sangat penting dilakukan, karena antara individu dengan individu lain sangatlah berbeda, dilihat dari gambaran kepribadian secara umum,potensi intelektual dan daya pikirnya yang dihubungkan dengan olahraga.

DAFTAR PUSTAKA

Anshel, M. H. (1997). Sport psychology: From theory to practice (3rd ed.). Scottsdale, AZ: Gorsuch Scarisbrick.

Clarke, K. S. (1984). The USOC sports psychology registry: A clarification. Journal of Sport Psychology, 6, 365-366.

Sachs, M. L. (1993). Professional ethics in sport psychology. In R. N. Singer, M. Murphey, & L. K. Tennant (Ed.), Handbook of research in sport psychology (pp. 921-932). New York: Maacmillan.

Seraganian, P. (Ed.). (1993). Exercise psychology: The influence of physical exercise on psychological processes. New York: John Wiley & Sons.

Singer, R. N. (1993). Ethical issues in clinical services. Quest, 45, 88-105

Triplett, N. (1898). The dynamogenic factors in pacemaking and competition. American Journal of Psychology, 9, 507-553.

Weinberg, R. S., & Gould, D. (1995). Foundations of sport and exercise psychology. Champaign, IL: Human Kinetics

Wiffins, D. K. (1984). The history of sport psychology in North America. In J. M. Silva & R. S. Weinberg (Eds.), Psychological foundations of sport (pp.9-22). Champaign, IL: Human Kinetics.

Willis, J. D., & Campbell, L. F. (1992). Exercise psychology. Champaign, IL: Human Kinet

Sudibyo, S (1989).Psikologi Olahraga;PT Anen kosong anem, Jakarta

http://one.indoskripsi.com/node/673

http://ch1ples.wordpress.com/2009/01/18/Tamzirien-psikologi-olahraga/


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: